Interaksi dengan non Muslim dan Dunia Global

Posted in Interfaith Dialogue, agama on Juli 6th, 2011 and

Oleh, M. Syamsi Ali

Bagi umat Islam yang hidup di negara-negara mayoritas non Muslims, pembicaraan mengenai interaksi dengan non Muslim merupakan sesuatu yang sangat esensial dan mendasar. Esensial karena kenyataannya pergaulan, baik pada tataran fardi (individu) maupun jamaai (komunal/masyarakat)… setiap saat terkait dengan non Muslim. Dari tetangga di kediaman, pasar, jalan, bioskop, hingga ke kantor-kantor pekerjaan dan bahkan pemerintahan, semuanya terkait dengan teman-teman non Muslim.

Bahkan umat Islam yang hidup di negara-negara mayoritas Muslim, juga kenyataannya menghadapi realita yang sama. Yakni kehidupan ‘tertetanggan’ tidak lagi seperti yang dipahami secara ‘konvensional’ (tradisi) bahwa tetangga itu adalah si Abdullah di seberang kiri dan si Muhammad di seberang kanan. Bahkan tidak mustahil seorang Muslim yang tinggal di Kalimantan serasa bertetangga dengan Yahudi Ortodoks yang tinggal di Brooklyn New York. Apapun yang dialami tetangganya di Kalimantan akan dengan mudah diakses oleh tetangganya di Manhattan, yang dikenal dengan kota dunia.

Itulah bentuk pertetanggaan yang dibentuk oleh dunia dengan proses globalisasi yang dahsyat dan dengan karakter telekomunikasi yang ‘ajaib’. Bahkan tidak jarang tetannga jauh (secara lahiriyah) ternyata lebih awal mengetahui apa yang menimpa tetangganya ketimbang yang tinggal (secara lahiriyah) di seberang rumahnya. Berita-berita tentang tanah air Indonesia lebih awal terbaca oleh mereka yang tinggal di kota New York daripada mereka yang tinggal di Indonesia sendiri.

Kenyataan inilah yang menjadikan kaum Muslim harus semakin sadar akan dunianya yang boleh jadi menuntut perubahan ‘cara pandang’ dalam banyak hal. Salah satu cara pandang yang perlu kembali dilihat adalah bagaimana berinteraksi dengan tetangga-tetangga non Muslim. Kekeliruan melihat atau memandang interaksi ini, boleh jadi menjadikan umat ini berada pada posisi yang justeru akan semakin menjadikannya ‘salah dipahami’ dan bahkan termarjinalkan di tengah arus perubahan dunia global.

Rasul sebagai Tauladan

Bagi umat ini, merupakan bagian dari fondasi iman yang mempercayai bahwa Rasulullah, Muhammad SAW, adalah cerminan dalam segala sikap dan prilaku, kasat maupun batin, dan dalam segala aspek kehidupan itu sendiri. ‘Uswah hasanah’ Rasul, demikian disebutkan dalam Al’Qur’an, merupakan dasar pijakan hidup seorang Muslim dalam hidupnya di setiap saat dan ruang. Keyakinan ini merupakan impelementasi dari ‘komitmen’ dasar ‘Muhammadan Rasulullah’ dalam syahadat yang diikrarkan itu.

Jika kita mengintat kembali rentang perjalanan hidup Muhammad SAW sebagai Rasulullah (utusan Allah) selama kurang lebih 23 tahun itu akan didapati betapa semuanya merupakan ‘aktualisasi’ dari ‘Rahmah Allah’ dalam bentuk kehidupan nyata. Inilah yang menjadikan beliau, tidak saja dikenal sebagai pembawa ‘rahmat’, tapi beliau sendiri merupakan ‘rahmatan lil alamiin’. Karena memang beliau tidak saja ‘telah mentabligkan’ (menyampaikan) ajaran yang penuh kasih dan sayang ini, tapi juga telah membuktikannya dalam wujud kehidupan nyatanya. Dan karenanya, semua aspek kehidupan Rasul merupakan ekspresi ‘rahmat Ilahi samawiyah’ yang terlihat, terasa, dan dinimati oleh semua yang ada di sekeliling beliau. Tidak saja manusia, tapi seluruh alam semesta selain Penciptanya.

Tentu ‘kasih sayang’ Rasul SAW juga telah tercicipi mereka yang justeru menolak ajarannya (non Muslim). Namun sebelum membicarakan bagaimana Rasulullah SAW mempraktekkan ‘rahmatan lil alamin’ ini dalam konteks dengan non Muslim, kita akan coba melihat terdahulu apa perbedaan antara cinta (al-hubb atau al-wudd) dengan sayang (rahmah). Hal ini sangat penting mengingat ada asumsi yang mengatakan bahwa Islam itu adalah ajaran yang kurang aspek ‘cinta kasihnya’. Seolah cinta kasih itu didominasi oleh ajaran agama tertentu. Tapi benarkah demikian?

Dalam Al-Qur’an ada dua kata yang dipakai ketika merujuk ke kata ‘cinta’. Pertama adalah al-hubb seperti ‘qul in kuntum tuhibbuuna Allaha…dst). Kedua adalah al-wudd seperti dalam sifat Allah sebagai al-Waduu dan pada ayat ‘waja’ala baenakum mawaddatan…..’

Sebagian ahli bahasa menjelaskan bahwa ketika kata ‘cinta’ tereskpresikan dengan kata ‘al-hubb’ maka itu adalah cinta yang terjadi karena ada sebab akibat. Kecintaan kita kepada Allah SWT terjadi karena kita sadar akan besarnya nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Dan karena kecintaan kita kepada ALlah ini yang terekspresikan dalam ketaatan kepada RasulNya, Allah pun cinta kepada kita.

Sementara ketika cinta terekspresikan dengan kata ‘alwudd /al-mawaddah’ maka itu adalah cinta yang tidak memiliki sebab akibat. Allah tidak menamai diriNya dengan ‘al-Muhibbu’ (the lover) tapi Al-Wadud (the Loving One) karena memang cintanya kepada hamba-hambaNya tidak memerlukan sebab dan bukan karena sebuah akibat. Allah cinta karena memang itu menjadi bagian integratif dari sifatNya yang agung.

Kecintaan seorang suami kepada isterinya dan sebaliknya kecintaan seorang isteri kepada suaminya diekspresikan dengan kata ‘al-wadud’ dengan harapan bahwa kecintaan suami isteri itu jangan karena ada sebab akibat. Cintailah isteri anda bukan karena ada sesuatu yang anda harapkan dari isteri. Demikian sebaliknya. Tapi merupakan cinta tanpa pamrih, hanya karena memang itu menjadi bagian integral tuntutan dalam membangun rumah tangga yang sakinah.
Lalu bagaimana dengan ‘kasih sayang’ (rahmah)?

Ternyata rahmah adalah cinta yang telah teraplikasikan dalam wujud nyata. Artinya, kalau cinta masih merupakan ‘bahasa batin/rasa’ maka rahmah mewujudkannya dalam bentuk realita laku dan pengorbanan. Di sinilah rahasia ketika Allah SWT mengatakan ‘wajaala baenakum mawaadatan wa rahmatan’. Bahwa Allah menjadikan di antara suami dan isteri rasa cinta dan kemudian tersusuli dalam bentuk rahmah (kasih sayang). Dan ini terbukti ketika cinta itu tidak lagi (minimal kurang) memiliki faktor penyebab (alasan/cause). Sebagai misal, cinta isteri karena cantik, karena pandai memasak, dll. Bagaimana kalau isteri telah mencapai umur tertentu di mana semua penyebab itu telah tiada? Haruskah cinta itu menghilang seiring hilangnya penyebab? Di sinilah faktor ‘rahmah’ berperan. Cinta tetap cinta karena memang cinta dan tanpa pamrih.

Mungkin rahim ibu adalah saksi nyata ‘rahmah’ dalam hidup manusia. Selama 9 bulan semua kita berada dalam rahim ibunya. Dan di masa itulah seorang ibu mengjalani kehidupannya dengan penuh kesulitan. Dan ketika melahirkan itulah masa-masa tersulit dalam kehidupan seorang wanita. Toh, tak seorang pun di anatar ibu pernah mengeluh kepada sang anak yang telah merepotkan sedemikian rupa. Dan tak seorang ibupun yang pernah meminta bayaran kepada anak-anaknya walau anak-anak itu telah mencapai keberhasilan yang besar di kemudian hari. Itulah ‘rahmah’…terpatri dalam rahim setiap ibu.

Rasulullah SAW sebagai ‘rahmatan’ telah membuktikan bahwa cinta dan kasih sayangnya tidak mengenal ‘sebab dan akibat’. Beliau cinta dan saying karena memang itulah ‘tabiat dasar’ beliau sebagai ‘khar basyar’ (sebaik-baik manusia) yang pernah lahir di atas bumi ini.

Perlakukan beliau kepada non-Muslim semuanya merupakan cerminan dasar dari karakter beliau yang rahmatan lil-alamin. Pertanyaannya bagaimana beliau ‘menjabarkan’ rahmatan lil-alamin ini dalam konteks interaksi beliau dengan non-Muslim?

Pandangan Positive

Rasulullah SAW memiliki pandangan positif kepada semua manusia, Muslim dan non-Muslim. Pandangan positif ini tentunya merupakan refleksi langsung dari kenyataan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan positif. Kalaupun dalam prosesnya ternyata ada manusia yang menjadi sebaliknya (jahat) maka itu merupakan penyimpangan dari karakter dasar yang positif.

Karakter dasar manusia yang positif ini terpatri dalam dua aspek manusia. Pertama adalah karakter fitri, bahwa manusia pada dasarnya adalah positif (suci). Kedua adalah karakter kapasitas, bahwa manusia memiliki kapasitas yang maha hebat (ilmu).

Kedua dasar karakter dasar inilah yang kemudian menjadikan Allah di sejak awal penciptaan manusia memerintahkan kepada malaikat untuk memberikan penghormatan kepada ciptaanNya yang unik ini dengan perintah bersujud kepada Adam AS. Jauh sebelum memerintahkan malaikat bersujud, Allah telah melakukan self-answer kepada malaikat ketika mereka ‘mempertanyakan’ penciptaan manusia: ‘Apakah Engkau akan menjadikan (manusia) yang akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di atas bumi?’.

Allah SWT menjawab dengan jawaban yang tegas dan tepat. Sebuah jawaban yang tegas karena tidak terpengaruh oleh pertanyaan para malaikat yang jelas-jelas ‘innocent’ (suci) tersebut. Tepat karena jawaban yang diberikan tepat sasaran dan sesuai. Allah mengatakan: ‘Inni a’lamu maa laa ta’lamuun’ (Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak ketahui).

Jawaban ini selain menjawab kekhawatiran malaikat, juga menggambarkan pandangan positif Allah kepada manusia yang akan diciptakan itu. Bahwa malaikat ada benarnya kalau akan ada manusia yang melakukan kerusakan dan pertumpahan darah, memang Allah tidak menjawab kamu salah. Tapi Allah juga tidak mengambil kesimpulan dari prilaku sebagian manusia yang akan melakukan kerusakan itu. Sebaliknya Allah memandang bahwa dari manusia itu aka nada yang mampu melakukan banyak hal positif, termasuk membangun peradaban yang sangat tinggi. Dan ternyata ini menjadi kenyataan.

Dalam penyikapi non Muslim, Rasulullah SAW memiliki pandangan positif seperti ini. Bahwa sejahat apapun manusia itu, toh masih ada ‘penglihatan batin’ yang dia sendiri tidak mampu bohongi. Ada fitrah yang tidak akan berubah (laa tabdiila likhalqi Allah). Inilah yang menjadikan beliau menolak ketika malaikat gunung menawarkan kepada beliau untuk menghancurkan penduduk Thaif yangt telah menyakiti beliau ketika itu. Beliau menolak ide penghancuran itu dengan mengatakan: ‘mudah-mudahan ada di antara generasi mereka ini yang akan kembali beriman kepada Allah SWT’.

Sikap positif pula inilah yang menjadikan beliau menengadahkan tangan ke langit secara berdoa kepada Allah agar kiranya memberikan hidayah kepada salah satu dari dua Umar Mekah ketika itu. Umar pertama adalah Abu Lahab, paman beliau sendiri. Dan Umar yang kedua adalah Ibnu Khattab, seorang pria perkasa yang kuat dan ditakuti oleh banyak penduduk Mekah ketika itu. Keduanya sebelum salah satu di antaranya mendapatkan hidayah adalah orang-orang yang yang sangat jahat dan jahil. Tetapi Rasulullah justeru mendoakan agar salah satunya diberikan hiadayah dalamm doanya yang terkenal: ‘Allahumma ihda ahada Umaraen’ (yaa Allah tunjukilah salah satu dari dua Umar). Dan ternyata Allah kemudian mengabulkan doa Rasulullah SAW dengan masuknya Umar ke dalam agama hanif ini.

Dalam dunia global sekarang ini pandangan sikap seperti ini tentu sangat relevan. Dan ternyata itu terbukti bahwa dengan pandangan positif kita dapat membangun relasi yang positif dengan non-Muslim. Dengan relasi positif ini ternyata banyak membuahkan hasil-hasil positif dalam banyak kesempatan. Salah satunya sebagai misal adalah ketika Congressman Peter King melakukan ‘dengar pendapat’ (hearings) di congress, ternyata banyak di antara non-Muslim yang selama ini telah membangun hubungan positif dengan komunitas menentangnya, termasuk di daerah pemilihan Peter King sendiri (constituents).

Terlalu banyak contoh yang dapat diajukan untuk membuktikan betapa membangun pandangan positif terhadap non Muslim justeru akan menjadi jalan kebajikan bagi komunitas Muslim itu sendiri. Tensi dan bahkan perasaan dan kecenderungan memusuhi justeru hanya akan semakin mempersempit jalan da’wah dan pada akhirnya justeru tuduhan bahwa Islam mengajarkan ‘hatred’ (kebencian) dan ‘violence’ (kekerasan) seolah mendapat justifikasi dari pemeluknya. Semoga saja tidak.

Kemuliaan Insan

Semua memahami dari deklarasi Al-Qur’an bahwa manusia itu adalah makhluk yang mulia pada prinsipnya. Kemuliaanj manusia tidak diberikan oleh sesame manusia atau makhluk lainnya. Melainkan secara langsung dan tegas Allah sendiri yang menyatakan: ‘Sungguh Kami telah muliakan anak cucu Adam (manusia)’.

Prinsip kemuliaan (izzah atau karaamah) manusia ini begitu ‘frundamental sehingga ketidak inginan seseorang untuk menerima hidayah Allah tidak menjadi alas an bagi manusia lainnya untuk mengambil darinya kemuliaan itu. Kemuliaan mendasar ini tidak akan dapat dihilangkan atau dicopot kecuali oleh Dia yang memuliakannya. Oleh karenanya, informasi akan manusia terjatuh ke dalam lembah kehinaan, bukan menjadi alas an bagi manusia lainnya untuk menghinakannya. Karena itu hanya hak Dia Yang mencipatakan dan memberikan kemuliaan atau sebaliknya.

Rasulullah sungguh menyadari hal ini. Sehingga suatu ketika beliau sedang berada di pinggir jalan, tiba-tiba ada sekelompok orang yang mengusung mayat. Segera Rasulullah SAW berdiri seolah memberikan penghormatan kepada sang mayat itu. Seorang sahabat merasa bahwa apa yang dilakukan Rasul Allah itu kurang tepat dan mungkin saja dianggap merendahkan martabat beliau. Sahabat itu memberitahu Rasul kalau sang mayat itu adalah seorang Yahudi (yang dalam pikirannya tidak pantas untuk dihormati). Dengan tegas Rasul menjawab: ‘Bukankah dia juga adalah manusia (yang seharusnya memiliki kemuliaan)?’.

Sebuah pengakuan bahwa kehormatan manusia itu adalah ‘divinely granted’ dan tentunya yang akan tercopotnya juga seharusnya melalui ‘divine decision’ dan bukan keputusan manusia.

Kemuliaan manusia ini menjadikan semua manusia dalam pandangan Islam mulia dan terhormat tanpa melihat latar belakang ras, bangsa, status ekonomi, dst. Mungkin ‘khutbah selamat tinggal’ (khutbatul wadaa’) rasul di di padang Arafah menggambarkan hal ini secara gambling: ‘semua kalian berasal dari Adam dan sungguh Adam itu (hanya) berasal dari tanah’. Artinya, siapa dan bagaimanapun kita sekarang ini, maka kita semua berasal dari tanah. Yang memuliakan kemudian adalah Dia yang di atas sana.

Pemiliaan manusia dan non-Muslim oleh Rasul ini menjadi warisan para sahabat dan khususnya ‘khulafa rashiduun’ setelah meninggalnya beliau. Salah satu peristiwa sejarah yang tercatat oleh tinta emas perjalanan sejarah umat adalah kisah seorang Kristen Coptic Mesir yang melaporkan Amr bin Ash kepada khalifah Umar bin Khattab. Kisah panjang itu dikisahkan oleh seorang sahabat agung, Anas bin Malik.

Menurut Anas, suatu ketika dimusim haji beliau sedang duduk bersama Umar R.A. pemimpin umat ketika itu yang memerintah dari Medinah hingga ke Afrika Utara, termasuk Mesir. Tiba-tiba saja seorang Kristen Coptic dari Mesir masuk dengan menyatakan: ‘yaa Amiral mukminin, saya adalah seorang pengungsi yang dating kepadamu mengadukan ketidak adilan gubernur engkau di Mesir’.

Menurut Malik R.A. ‘Demi Allah, saya melihat Umar mendengarkan pengaduan orang tersebut dengan penuh perhatian dan dengan segala simpati’.

Kristen Mesir itu melaporkan bahwa suatu ketika ada perlompaan mengendarai Onta di Mesir di mana anak Amr bin Ash, gubernur Mesir ketika itu, ikut dalam perlomabaan. Sang Kristen itu juga menjadi salah seorang peserta. Dan ternyata perlombaan itu dimenangi oleh sang Koptik dan mengalahkan anak ghubernur Mesir.

Kekalahannya ternyata disikapi dengan ego dan arogansi. Sang anak tersebut memukul Kristen tersebut seraya berkata: ‘Saya orang yang mulia, anak dari seseorang yang mulia’.

Mendengar kejadian itu, Amr bin Ash khawatir jangan-jangan khalifah di Madinah akan mengetahuinya. Entah bisikan dari mana, beliau juga memenjarakan sang Kristen itu.

Akan tetapi dalam sebuah kesempatan sang Koptik itu dapat melarikan diri dari penjara dan kemudian keluar dari Mesir menuju Madinah untuk mengadukan ketidak adilan yang menimpa dirinya itu kepada pemimpin umat. Singkat cerita, setelah mendengarkan pengaduan itu, Umar memberikan tempat yang aman bagi sang Kristen dan dengan segera mengirimkan surat kepada gubernur Mesir untuk datang ke Madianah bersama anaknya.

Beberapa waktu kemudian tibalah Amr bin Ash di Madinah bersama anaknya. Menurut Anas lagi, ketika sang gubernur masuk menemui khalifah, anaknya berlindung di balik punggunya. Khalifah kemudian menanyakan di mana gerangan anak sang gubernur. Sang anak kemudian memperlihatkan dirinya kepada Umar R.A.

Setelah keduanya hadir di hadapan Umar, sang Khalifah kemudian memanggil orang Kristen tersebut dan langsung menyuruhnya untuk memukul anak gubernur seraya berkata: ‘pukullah anak mulia ini, anak dari orang yang mulia (gubernur)’. Sang Kristen itu memukul anak gubernur tapi dengan pelan karena masih canggung barangkali. Oleh Umar R.A. disuruhnya agar memukul anak itu lebih keras lagi.

Setelah sang Kristen itu memukul anak gubernur, Umar kemudian menyuruhnya untuk memukul dirinya. Betapa kaget sang Kristen itu seraya bertanya; ‘ya Amiral Mukminin, kenapa saya harus memukul engkau?’. Umar menjawab: ‘karena saya adalah pemimpinnya, dan saya merasa ikut bersalah’. Namun sang Kristen itu tetap bertahan untuk tidak memukul sang Khalifah.

Umar kemudian berbalik kepada Amr bin Ash, gubernur Mesir, sang komando perang yang luar biasa seraya berkata: ‘Dan engkau wahai Amr, sejak kapan kamu memiliki hak untuk memperbudak manusia, sedang semuanya dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka?’. Ungkapan Umar ini tercatat abadi dalam catatan tintah emas kegemilangan sejarah umat ini.

Itu hanya satu dari sekian banyak cerita pemuliaan manusia oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Sungguh kita tertantang untuk merenungkan, bahwa di abad ke tujuh, di sebuah daerah padang pasir, ada sekelompok manusia yang jauh lebih adil dan beradab dari mayoritas manusia yang merasa beradab di abad 21 ini, dan bahkan di negara-negara yang jsuteru mengaku sebagai pahlawan hak-hak dasar manusia (human rights).

Maka umat inipun tertantang untuk merubah persepsi yang terkadang merendahkan derajat/martabat orang lain karena tidak atau belum beriman kepada agama ini. Penghormatan kepada manusia bersifat mendasar dan karenanya sekali lagi tidak bisa dicopot oleh ‘judgment manusiawi’ melainkan ‘penilaian ilahiyah’.

Dalam dunia kita sekarang ini, dan dalam interaksi dengan non Muslim, sungguh pemuliaan ini menjadi tonggak relasi yang harmonius. Mungkin dalam bahasa lazimnya dalam masyarakat adalah ‘mutual respect’ (saling menghormati) adalah sebuah hajat ril dalam hubungan antar manusia di abad ini. Jika kita mau dihormati maka kita harus bersedia untuk menghormati orang lain.

Kebebasan Universal

Walaupun terjadi perdebatan panjang dalam mendefenisikan kebebasan antara dunia barat dan dunia Islam saat ini, pada prinsipnya ada kesepahaman bahwa kebebasan adalah universal right semua manusia. Manusia, apapun afiliasinya, baik secara agama, ras, suku, ataupun status ekonomi, dll., memiliki hal mendasar untuk bebas. Kebebasan universal ini juga memiliki bebebrapa aspek, antara lain, kebebasan ekspresi, kebebasan beragama termasuk kebebasan beriman, beribadah dan melakukan hukum-hukum agamanya (religious laws).

Hal pertama yang harus kita pahami bahwa kebebasan dalam Islam tidak dipandang sebagai ‘socially decided and granted’ seperti yang tercantum dalam piagam HAM yang terlahir di tahun 1947. Melainkan ‘divinely granted and guaranteed’ dan merendahkannya berarti merendahkan karunia Allah yang telah diberikan dan dijamin bagi semua hamba-hambaNya.

Kebebasan ekspresi menjadi salah satu hak dasar bagi semua manusia. Allah sendiri yang telah menjadikan manusia memiliki kapasitar ‘akal’ (wa’allam Aadama), dan karenanya manusia memilik ‘keinginan tahu’ (curiosity) yang sangat tinggi. Ketika keinginan untuk mengeskpresikan itu terkungkung maka beban itu begitu berat di dadanya sehingga akan terjadi ledakan yang boleh jadi sangat negatif. Kungkungan kebebasan yang sedemikian lama di negara-negara Arab melahirkan pergerakan perubahan (revolusi) yang dahsyat. Hal ini merupakan buah alami dari kungkungan kebebasan ekspresi selama ini.

Ketika Allah memberitahu para malaikat jikalau manusia akan ditempatkan di atas bumi ini, bukan dimaksudkan untuk menambah atau mengurangi ‘keputusan Allah’ dalam hal ini. Allah hanya ingin memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengekspresikan opini mereka. Apapun bentuk opini itu, tidak akan merubah keputusan Allah tersebut. Dan buktinya memang mereka mengekspresikan pendapat: ‘apakah Engkau akan menciptakan manusia di atas bumi ini yang akan melakukan kerusakan dan saling menumpahkan darah?’. Allah tidak membungkam mereka dengan mengatakan: ‘shut up!’. Justeru Allah hanya mengatakan: ‘Saya lebih tahu apa yang kamu semua tidak tahu!’

Ketika Rasulullah pertama kali tiba di Madinah ada beberapa prioritas yang beliau lakukan. Salah satu dari prioritas itu adalah perlunya merumuskan konstitusi negara (Madina) yang universal dan mengikat semua anggota masyarakat yang beragam itu. Dalam proses itu, Rasulullah SAW mengajak semua komponen masyarakat, termasuk yahudi, kristen, dan bahkan warga negara yang menyembah patung-patung (musyrik) untuk merumuskan konstitusi baru negara Madinah itu. Ini bukti yang jelas bahwa hak non Muslimdalam berekspresi adalah dijamin dalam ajaran Rasulullah SAW.

Oleh karenanya sejarah mencatat bahwa sepanjang kekuasaan Islam di berbagai belahan dunia, dari Afrika Utara, India, dan Barat (Spanyol) betapa non Muslim memiliki hak penuh untuk mengekspresikan opini, termasuk kepada penguasa jika ada hal-hal yang tidak sesuai berdasarkan konstitusi yang disetujui bersama. Beberapa ahli sejarah bahkan mencatat bahwa ada masa-masa di mana non Muslim merasa lebih bebas ketimbang ketika mereka hidup di bawah kekuasaan non Muslim (atau seagama dengan mereka).

Kebebasan beragama mencakup tiga hal: Akidah, ibadah, dan hukum. Ketiga hal dalam agama ini juga dijamin oleh ajaran Islam dengan pengaturan yang sangat jelas.

Kebebasan memilih keyakinan adalah tabiat iman. Iman bukan paksaan dari luar, tapi jusetru dorongan dari dalam diri masing-masing. Dan kerananya, ayat yang mengatakan: ‘laa ikraah fid din’ (tiada paksaan dalam agama) turun karena beberapa ibu yang sebelum Islam datang di Madinah mengarahkan atau lebih memilih jika anak-anak mereka masuk yahudi atau kristen. Tak kalah Islam datang ke Madinah mereka kemudian berkeinginan jika anak yang telah terlanjur masuk yahudi atau kristen itu pindah ke Islam. Allah SWT menurunkan ayat ini mengingatkan bahwa keputusan untuk memilih keyakinan itu bukan dengan paksaan.

Ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan: ‘Kalau Tuhanmu menghendaki niscaya manusia semuanya beriman. Lalu apakah kamu (wahai Muhammad) memaksa manusia sehingga mereka beriman?’. Sebuah ayat yang mengingatkan bahwa Allah pun bisa saja menjadikan semua manusia beriman. Tapi bukan itu hikmah dari penciptaan Allah. Untuk itu, jangan samopai engkau wahai Muhammad memiliki tendensi memaksa manusia. Persis sama ketika Allah mengingatkan: ‘Lasta alaihim bi mushoethir’ (kamu nggak punya kuasa atas mereka). Dan bahkan Allah mengingatkan lagi: ‘maa alaek illa al balaagh’ (Tugasmu hanya sekedar menyampaikan).

Maka adanya pendapat bahwa Islam disebarkan dengan paksaan adalah terbantah dengan jelas oleh Al-Qur’an dan praktek-praktek (sunnah) Rasul. Walaupun diakui boleh saja ada kejadian dalam rentang perjalanan sejarah itu di mana ada penguasa yang melakukan penyimpangan dari ajaran ini. Tapi penyimpangan sudah pasti bukan saja ‘misreprsentasi’ Islam tapi ‘condemnable’ (terkutuk dan tertolak) dalam Islam.

Kebebasan beribadah jugab merupakan bagian dari kebebasan beragama yang dijamin dalam Islam. Bahkan dalam Konstitusi Madinah, yang merupakan konstitusi sipil yang pertama dalam sejarah manusia, jaminan ibadah bagi semua kelompok agama dijamin dengan tegas. Bahkan pasal pengaturan hak-hak praktek agama ini merupakan pasal terpanjang dalam konstitusi itu.

Jangankan dalam situasi normal dan aman. Dalam situasi perang saja, ibadah agama orang lain harus tetap dijamin oleh Islam. Nasehat Rasul kepada para prajurit di antaranya ketika berperang ‘jangan mengganggu orang-orang yang beribadah’. Bahkan Al-Qur;an menjamin pemeliharaan rumah-rumah ibadah walaupun dalam keadaan perang: ‘Dan jikalau bukan karena Allah menjaga manusia antara satu dengan lainnya, maka rusaklah sinagog, gereja, purau dan masjid-masjid’. Artinya, Al-Qur’an tidak membedakan pemeliharaan ruah ibadah itu baik bagi Yahudi, Kristen, Budha/Hindu dan Muslim. Semuanya harus dipelihara dalam keadaan apapun.

Demikian pula kebebasan dalam menjalankan hukum-hukum agama mereka. Tidak ada aturan dalam hukum Islam bahw non Muslim harus mengikuti hukum Islam ketika hukum itu dipraktekkan dalam sebuah masyarakat. Konstitusi Madinah menjamin semua pemeluk agama untuk tetap berhukumkan dengan hukum agama mereka. Al-Qur’an mengingatkan Rasul: ‘Dan jika mereka datang kepadamu untuk meminta keadilan maka hukumlah atau berpalinglah. Dan jika kamu berpaling tiada beban bagimu. Tapi jika kamu hukum mereka maka hukumlah dengan adil’.

Pada zaman Umar bin Abdul Aziz non Muslim tetap mempraktekkan kehidupan sosial sesuai dengan kebiasaan mereka, seperti makan babi, minum alkohol, dll. Khalifah Umar bin Abdul Aziz merasa tidak ‘sreg’ (senang) dengan hal ini. Maka beliau memutuskan menulis surat ke Hasan al-basri meminta pendapat atau fatwa. Hasan al-Basri kemudian dengan tegas menjawab: ‘biarkanlah karena mereka membayar jizyah. Yang kamu harus lakukan adalah ikut kepada hukum dan jangan menambah atau mengurangi’.

Itulah benatuk-bentuk kebebasan beragama dalam ajaran Islam. Tiada pemaksaan iman, bebas beribadah dan terjaga, dan juga bebas melakukan hukum mereka sesuai dengan ajaran agama mereka. Mungkin yang terakhir ini Amerika perlu banyak belajar sehingga penentangan kepada syariah tidak perlu menjadi sesuatu yang ‘saleable’ atau menjadi vahan kampanye kekuasaan para politisi oportunis.

Dada Lapang dan Visi yang Jauh

Dalam menyikapi beberapa sikap islamiphobic biasanya menjadikan kita hilang keseimbangan berpikir dan hanya mengedepankan amarah dan emosi. Padahal baik ayat-ayat Al-Qur’an maupun praktek-praktek (sunnah) Rasul penuh dengan contoh tauladan bagaimana menyikapi hal-hal yang terkadang memang menyakitkan itu.

Al-Qur;an misalnya menegaskan: ‘Dan hamba-hamba Rahman adalah mereka yang berjalann di atas bumi ini dengan rendah hati. Dan jika orang-orang jahil (bodoh) menentang mereka, mereka merespon (dgn) damai’.

Ayat ini sangat jelas dan tidak memerkan penjelasan. Bahwa sikap orang beriman (hamba-hamba Yang Maha Rahman) selalu rendah hati dan dalam menyikapi ‘tantangan’ selalu memakai jalur-jalur damai (non violent). Dalam hal ini kita tidak perlu kagum dengan Gandhi misalnya. Atau dengan Mandela di Afrika Selatan. Atau Dalai Lama dari Tibet. Karena Rasulullah SAW adalah contoh yang paling mulia dalam hal ini.

Kasus Thaif telah disebutkan terdahulu. Bahwa betapa ketika malaikat gunung menawarkan jasa kepada Rasul untuk menghacurkan penduduk Thaif, justeru Rasul berlapang dada dan melihat ke depan dengna visi yang panjang: ‘semoga saja ada di antara anak keturunan mereka yang akan beriman kepada Allah’.

Mungkin contoh yang paling dekat adalah di saat-saat rasul dan para sahabatnya dalam keadaan ingin sekali dan telah bertekad untuk melakukan ibadah haji ke Mekah. Mereka dihadang oleh kaum musyrik Mekah melarang kaum Muslimin melakukan haji tahun itu. Sungguh berat, hati telah mantap, persiapan telah dilakukan, tapi harus membatalkan?
Beberapa sahabat bahkan meminta Rasul untuk tegas dan kalau perlu berperang saja. Sahabat ini nampaknya persis sikap beberapa umat saat ini yang ketika emosi tidak lagi melihat ‘realita’ diri dan sekitarnya. Siap berperang? Mereka berpakaian ihram dan tiada persiapan. Tapi masih mengedepankan emosi dan siap berperang? Hanya Rasul kemudian yang selalu ‘rasional’ dalam pertimbangan.

Oleh Rasul diajaknya utusan Mekah itu untuk berdamai dan bahkan merumuskan perjanjian bahwa di antara mereka tidak akan ada lagi saling mengganggu. Dalam prosesnya, rumusan perjanjian itu ternyata sangat merugikan umat Islam dalam pertimbangan singkat dan terbatas. Banyak sahabat yang tidak mau menerima isi perjanjian itu. Bahkan kata bismillah dan rasul pun harus dihapuskan. Bagi sebagian sahabat itu merupakan ‘pelecehan’ kepada baginda Rasulullah SAW. Umar salah satunya yang menentang menerima keputusan itu.

Tapi sebaliknya Rasulullah SAW dengan lapang dada menerima isi perjanjian itu demi menghindari pertumpahan darah. Penerimaan itu ternyata terbangun di atas visi yang jauh yang hanya seorang Muhammad SAW yang melihatnya. Ternyata perjanjian itu merupakan kunci pembuka ‘kemenangan besar’ (fathun Mubiin) atau kemenangan umat ini masuk ke dalam kota Mekah dengan kemenangan dan kemuliaan.

Lapang dada Rasul itu terbukti dibuktikan lagi setelah fath Mekah. Ambil sebagai contoh Ikrimah bin Abi Jahal adalah sepupu beliau yang di saat masih melakukan da’wah di Mekah ke mana-mana bersama ayahnya mengikuti Rasul dan menjelek-jelekkannya di hadapan orang lain. Setiap kali Rasulullah ditanya oleh orang lain siapa gerangan yang mengikuti itu? Beliau menjawab dengan jawaban positif, ‘mereka adalah paman dan saudara sepupuku’.

Ikrimah beberapa kali ikut dalam peperangan melawan Rasulullah untuk menghancurkan misi dan Madinah ketika itu. Tapi setelah Rasulullah masuk ke Mekah dengan bala tentara yang sangat dahsyat, Ikrimah ingin melarikan diri ke Yaman. Tetapai isteri telah masuk islam dan melaporkan kepada Rasulullah SAW. Oleh Rasul, sang isteri diminta untuk menyampaikan kepada suaminya untuk kembali ke Mekah dan Rasul menyampaikan jaminan kepadanya utuk tidak diganggu. Sang Ikrimah pun kembali dan Rasul sendiri menyambutnya dengan ungkapan: ‘Selamat datang wahai sang musafir yang mengendarai onta’.

Contoh lain adalah Habir ibni al Aswad. Dia adalah musuh bebuyutan Rasulullah di Mekah sebelum hijrah ke Medinah. Tapi barangkali kesalahan yang terbesar adalah ketika si Habir ini memukul Zaenab, putri Rasulullah, ketika akan meninggalkan Mekah hijrah menuju Media. Zaenab ketika itu dalam keadaan hamil. Maka ketika dipukul oleh Habir, diapun keguguran. Setelah Fath Mekah, diapun ketakutan sangat luar biasa. Dia melarikan diri ke Jeddah dengn harapan akan mendapatkan tumpangan menyeberangi lautan Merah. Ternyata tidak berhasil. Setelah dilaporkan kepada Rasul, dia menyampaikan agar segera kembali dan dijamin untuk tidak diapa-apakan.

Itu hanya segelintir contoh dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup rasulullah SAW. Yang seharusnya oleh umat di abad 21 ini menjadi contoh bahwa dalam banyak hal kita jangan sampai terperosot dalam genggaman emosi sesaat yang barangkali justeru dalam masa panjang akan merugikan perjuangan itu sendiri.

Mengajak, bukan Mengusir

Baik Al-Qur’an maupun praktek-praktek Rasul (sunnah) penuh dengan acuan bagaimana seharusnya umat ini menyampaikan ajaran ini kepada orang lain. Kebenaran yang disampaikan dengan metode atau cara yang kurang tepat boleh jadi justeru dipandang sebagai ‘keburukan’. Beberapa sikap kekhawatiran atau ketakutan terhadap Islam (islamophobia) biasanya bukan karena Islamnya. Hal ini terbukti jika mayoritas mereka yang takut itu belum pernah mempelajari atau masih bodoh dengan agama. Sebaliknya mereka hanya melihat bagaimana realita kehidupan umat di lapangan.

Untuk itu, metode penyampaian menjadi sangat krusial. Dan barangkali inilah makna ‘hikmah’ dalam ayat Allah: ‘Dan ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana’. Dan barangkali salah satu tuntutan hikmah adalah perlunya memahami secara benar ‘al-mad’uu’ atau objek da’wah, apa dan bagaimana seharusnya menyampaikan agama ini kepada mereka.
Pemahaman akan obyek da’wah ini menjadi alasan kenapa para Rasul itu terutus dari kalangan mereka sendiri (minhum). Sebab dengan Rasul dari kalangan mereka, akan Nampak dengan jelas siapa obyek dan apa-apa saja yang terkait dengan obyek itu. Kultur dan bahasa menjadi krusial misalnya dalam upaya menyampaikan da’wah ini.

Muslim di AS harus memahami tatanan masyarakat Amerika. Tatanan yang kita maksudkan bukan saja saja secara sosial, tapi termasuk tatanan ‘psikologi’, pemikiran, cara pandang, kultur, dll. Semua ini menjadi krusial ketika berbicara kepada mereka, sebagaimana Rasul ingatkan: ‘berbicara kepada manusia sesuai dengan akal pemikirannya’.

Da’wah adalah mengajak dengan persuasi dan tanpa ada tendensi pemaksaan, baik secara kasar maupun maupun halus dan cantik seperti iming-iming dengan materi. Dan bahkan Al-Qur’an dalam banyak tempat memberikan contoh bagaimana da’wah itu harus dengan cara yang ‘attractive’ dan magnetik (menarik). Salah satu hal yang dapat dikemukakan adalah ketika Allah memerintahkan Musa AS untuk pergi ke Fir’aun dan mengajaknya untuk beriman, seperti yang digambarkan di S. An-Nizi’aat:

‘Dan pergilah kamu ke Fir’aun karena sesungguhnya dia telah melampaui batas. Lalu katakanlah: hendakkah engkau mensucikan diri dan saya menunjuki ke jalan Tuhanmu dan kamu dapat merasa takut?’.

Perhatikan kata ‘fahal laka an tazakka?’. Dalam tatanan adaab al-lughah atau etika bahasa Arab, bentuk ajakan dengan kata ‘hal laka’ adalah ajakan yang sangat santun dan sopan. Maka dapat dipahami bahwa ketika Allah memerintahkan Musa AS untuk berdakwah kepada orang yang paling sombong yang pernah terlahir ke atas dunia ini, Allah memerintahkannya untuk sopan dan santun. Bahkan pada ayat lain Allah memerintahkan Musa untuk menyampaikan dengan kata-kata yang lunak (qaulan layyinan).

Sungguh sejarah baginda Rasul penuh dengan contoh-contoh yang menghiasi rentetan sejarah perjalanan da’wah itu. Cukup menjadi bukti betapa Rasul sangat kasih dan sayang kepada meraka yang bahkan berusaha untuk membunuhnya. Cerita seorang peminta-minta Yahudi buta yang selalu menjelek-jelekkan Rasul setiap kali beliau berjalan menuju mesjid. Justeru rasul melakukan kebajikan kepadanya dengan member makan setiap hari hingga berpulangnya beliau ke Rahmatullah, Saalla Allahu alaihi wa sallam!

Penutup

Bahwa tidak dapat diingkari interaksi antara Muslim dan non Muslim semakin tidak dapat dihindarkan. Dan karenanya umat islam harus mampu kembali menghayati contoh tauladan Rasul dalam berinteraksi dengan non Muslim secara orisinal, tanpa dipengaruhi oleh gesekan-gesekan politik dan kepentingan. Insya Allah dengan menelusuri jejak-jejak perjalanan Rasul seperti itu, sinar islam ini akan semakin bersinar dan menyinari seluruh alam. Sinar itu tidak saja akan menjadi lentera mereka yang mengimani, tapi juga dalam banyak hal akan dinikmati méreka yang tidak mengimaninya sekalipun. Semoga!

New York, 21 Juni 2011

Kerendahan Hati dan Kepekaan Sosial

Posted in Politik, Tak Berkategori, agama on Juli 2nd, 2011 and

Oleh, KH Rahmat Abdullah

Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina

Alangkah nikmatnya dicintai dan mencintai, dipercaya dan mempercaya. Alangkah mengharukannya dukungan rakyat yang tanpa pamrih. Kadang mereka lebih galak membela kita, daripada kita yang mereka bela. Rakyat bisa datang berjalan kaki bermil-mil, dalam panas dan haus. Untuk apa mereka begitu antusias? Apa jaminan caleg dan jurkam yang berjanji memperjuangkan nasib mereka?

Dukungan ini tak lepas dari realita yang mereka temukan dalam kehidupan para kader di pelbagai medan kehidupan. Yang komitmen kerakyatannya tak terragukan. Yang kepekaannya terhadap nasib mereka selalu hidup dan tajam. Yang tertempa oleh ke-ikhlasan dan kesabaran, sehingga tak tergiur oleh iming-iming dunia, KKN atau berbagai tekanan, ancaman atau godaan. Kecuali bila Anda adalah sekian dari sekian kekecualian, penumpang gelap di gerbong atau lok keadilan.

Akan teruskah dukungan berdatangan, ataukah seperti penumpang bus yang silih berganti dan berbeda kepentingan atau turun dengan penuh umpatan penyesalan? Demikian mengharukan dukungan datang. Tetapi awas, tiba-tiba ia dapat berubah menjadi taufan dan amuk balik yang mematikan.

Rakyat terlalu lelah untuk bisa memahami tokoh partai, kiayi muda atau aleg yang takut mengunjungi mereka, karena harus berhati-hati jangan sampai kemeja mahalnya ternoda debu di gubug mereka. Atau pantalonnya lusuh karena duduk di atas bangku reot di warung mereka. Atau nafasnya sesak duduk di rumah mereka yang kecil dan kurang udara. Atau jangan sampai mobil hasil dukungan rakyat tergores di gang sempit tempat domisili mereka. Rasanya terlalu mewah untuk bermimpi kapan pemimpin yang mereka dukung mengikrarkan (dan mem-buktikan), “Bila Anda perlu mengangkut keluarga yang sakit di tengah malam buta, silakan ketuk pintu dan kami akan antar ke rumah rawat”. Mereka tak punya cukup keberanian untuk menyeruak rumah baru para pemimpin yang sudah serba mewah. Mereka pun tak cukup mengerti bahwa ada (isteri) sesama kader juga saling menunggu, kalau-kalau tetangga yang sukses dengan dukungan kita mau ‘melempar’ mesin cuci butut atau kompor bekas yang sudah berganti dengan produk paling mutakhir. Atau membeli tambahan buku saat anak-anak mereka berbelanja, untuk teman sekelas atau anak tetangga lainnya.

Kader Pra Pemilu

Banyak kader tahan berbincang berjam-jam dengan rakyat jelata, kuli bangunan dan pengangguran, saat ia masih sama-sama miskin. Ia bisa dengan lahap menenggak suguhan teh panas di gelas mereka yang sederhana. Atau melahap sepotong dua tempe yang mereka goreng di atas perapian kayu bakar atau kompor minyak, yang selalu menyimpan ancaman terselubung untuk meledak, kapan-kapan waktu. Ia masih punya frekuensi dan gelombang setara untuk saling berbagi suka dan duka. Yang membedakan mereka mungkin satu, rakyat tak punya lidah yang cukup sistematis dan tidak punya saluran yang memadai untuk mengalirkan aspirasi dan sang kader punya ‘sistem’ untuk mengusung aspirasinya lewat saluran-saluran yang banyak dan lancar. Saluran itu adalah suara rakyat, keikhlasan mereka memilih dalam pemilu dan husnuzzhan yang luar biasa tingginya !

Apa yang diharapkan rakyat dari dukungan mereka? Ingin jadi anggota parlemen? No way! Mau jadi pejabat tinggi di partai atau di birokrasi? Tak mimpi, lah. Begitu tulus harapan mereka; agar kebenaran dan keadilan bisa tegak di tangan para kader yang akrab dan beradab, bersih dari KKN, dan fasih membacakan ayat-ayat kebenaran serta lantang mempidatokan gagasan-gagasan, janji-janji, dan gugatan-gugatan. Mereka punya basic insting yang murni untuk mendukung siapa yang jujur, asal dekat, terjangkau dan meyakinkan.

Terlalu rumit mencerna teori-teori politik dan paradigma da’wah, kecuali para kader telah menyajikannya dengan pendekatan yang membumi. Otak mereka terlalu sarat beban hidup, sehingga pilihan yang mudah diingat ialah wajah yang sering datang pergi, lancung atau pendustakah mereka.

Di sini demokrasi menjadi mesin culas orang-orang yang ingin meraih kekuasaan dengan cara-cara licik. Partai dominan membiarkan kemiskinan untuk pada saatnya ditukar dengan suara murah di bilik pemilu. Partai mitos sengaja merawat kebodohan dan memupuknya dengan berbagai mimpi kewalian, kekeramatan dan kemenangan agar rakyat tetap mendukung dan tak menggunakan nikmat akal yang begitu mahal.

Rakyat Pasca Pemilu

Kecuali dari kelompok pengejar kedudukan – seperti bandar-bandar judi, bandar bakso atau pemulung yang menjadi aleg dengan membeli kursi itu dari partainya dengan tarif ratusan juta rupiah – selebihnya rakyat adalah rakyat. Yang nasib mereka terus bergulir. Naik turun dalam kehidupan. Dengan gubug yang semakin rapuh, tergusur atau menjadi gedung, anak yang semakin banyak tuntutan dan status yang selalu diatasnamakan.

Terkadang muncul penyimpangan pertumbuhan seksual anak-anak, karena kondisi rumah yang tak kondusif bagi pendidikan. Harta habis untuk menebus anak yang di tangkap polisi atau memasukkan anak-anak ke panti rehabilitasi mangsa narkoba.

Yang hanif tetap dengan harapan-harapan yang entah kapan dapat terwujud. Hal yang tak berubah dari mereka; dukungan.

Mereka sangat sederhana dan tidak mengada-ada. Bila mereka mulai kecewa terhadap partai-partai atau petinggi-petinggi partai atau apa saja komentar bisa sangat getir:

“Ah, lehernya sudah tak bisa menoleh ke gubug kami lagi”

“Kerongkongannya sudah tak bisa dilewati gorengan singkong kami”

“Mereka orang-orang steril, alergi ketemu rakyat”

“Ah, kita kan cuma tangga, sesudah mereka menginjak-injak punggung kami, ya sudah, tinggal senang-senang saja”
“Dulu, waktu masih perlu dukungan suara untuk Pemilu, mereka sering dating. Sekarang, 3 lebaran lewat, la salam wala kalam”

“Dulu sih, kita masih berharap. Sekarang, apa bedanya dengan partai lain. Kadernya sombong-sombong”

“Apa yang berubah, suaranya di parlemen: sepi, sepi, sepi..! Yang kita dengar ramai, itu klakson mobil mengkilapnya. Pakaian isterinya makin gemerlap. Mainan anaknya makin norak. Sudah itu mobil dinas dipakai nganter anak. Ngomongnya dulu Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu karena tamunya tamu pribadi.”

Kedekatan adalah Bahasa Paling Fasih

Tidak benar rakyat senang betul melihat para pemimpin lapar dan miskin. Ya, roman-tisme siapa saja bisa terpanggil oleh kebersahajaan dan kesederhanaan. Terlebih bila itu keluar dari diri dan keluarga kader, pemimpin dan da’i.

Tidak perlu buang energi, berkerut wajah dan berbusa mulut untuk meredam suara-suara begini. Mereka hanya memerlukan keakraban, kebersahajaan dan kesederhanaan, lalu berbagai prasangka segera menguap.

Bukan pergelaran dendam kemiskinan, lagak pahlawan kesiangan atau pura-pura peduli. Mereka siap dibohongi asal nampak logis.

Tetapi itu mustahil, kecuali Anda memang dilahirkan untuk berbohong. Banyak orang panik menghadapi kritikan yang sebagiannya memang berbukti, sebagiannya harapan dan selebihnya ‘kenaifan’ analogi sejarah.

Bagaimana mungkin pemimpin disuruh pergi berkeliling negeri malam-malam untuk mengintai ibu-ibu yang menggodog batu, agar anak-anaknya tenang?

Kini, di siang hari mereka telah menggodog kucing, untuk ‘menenangkan’ mereka. Kadang naluri ‘birokrat’ bekerja dengan jawaban-jawaban oral yang sengit dan apologik, padahal jawabnya tersimpan dibalik kerendahan hati dan kepekaan sosial kader. []

Palestine An Appeal Global Movement of Non-Violent Resistance: Against the Violent, Extremist Policy of the State of Israel

Posted in Politik on Juni 23rd, 2011 and

The crisis in Gaza today underlines once more the horror—and the impasse—that the Palestinians face. We cannot simply wish a plague on both their houses; cannot hope for a negotiated settlement in the absence of direct, forceful outside involvement and intervention. To adopt a stance of false neutrality, to pretend to be powerless onlookers means letting events take their course; it means concluding, after every massacre, after every crisis, that the “peace process” has lead nowhere, that the situation grows more desperate with every passing day. A significant number of organizations around the world, and particularly in the West support the Palestinian cause. But these organizations are seemingly unable to agree on a common vision and strategies. In their discussions, they often confuse analysis of causes with the principles of resistance, or with the most effective methods of seeking support and the solutions to be put forward. In such circumstances, it is difficult to articulate a clear and coherent platform from which we can address the issues, engage in multi-dimensional action and build a solid united front. To resolve the conflict in accordance with basic,agreed-up principles of international law, we must begin with a minimum program of principles we can all agree upon:

  1. The Israel-Palestine conflict is primarily a political one (even though it has a religious dimension that implies the obligation to respect religious freedom for all—Jews, Christians and Muslims—and freedom of conscience for all, irrespective of religious or non-religious persuasion.
  2. There is an oppressor (State of Israel) and oppressed population (the Palestinian people).
  3. The Palestinian resistance is, de facto, legitimate.
  4. The Palestinians have the right to their own state, and to full freedom within it.
  5. The equal dignity of the Palestinians requires full equality of rights and treatment, no matter the proposed solution.
  6. Palestinians expelled from their lands have a natural right of return.
  7. Our commitment is based on an unconditional and equal rejection of racism of any kind, be it anti-Jewish, anti-Arab, anti-Christian or anti-Muslim.

Based on these seven principles, we can build local, regional and national collectives and platforms. They can then determine the priorities and objectives of the local/global resistance movement. The examples of “collectives” or “coordinating committees” in England and France, and in certain regions (the United States, Europe) must now be expanded to all countries on all continents, especially considering that the ostensibly local Israel-Palestine conflict has a global impact on the political and economic realities of today’s world. These local, regional, national and international coordinating committees should pursue the following objectives:

  1. Disseminate constantly updated and relevant information on the Middle East, in the form of websites, newsletters, lectures and teach-ins, videos, books, etc.; develop and sustain a citizen’s awareness of the issues, above and beyond moments of crisis and media coverage.
  2. Determine appropriate non-violent, legal and global resistance strategies (boycotts and coordination of concrete action: demonstrations, appeals to political leaders, etc.) already developed by some organizations but lacking sufficient coordination and collaboration except in times of acute crisis.
  3. Support and mobilize the economic solidarity movement for development and reconstruction projects (infrastructures, schools, etc.).

The most recent events in Gaza and the attitude of governments East and West make it clear that their widespread passivity and hypocrisy will rule out any solution to the conflict. It is as if the State of Israel, with the support of the United States and several European governments, has created an atmosphere of international intellectual terror: no one dares utter a word, speak the truth, or denounce the unacceptable. At the same time, the people of the world are far less gullible; increasingly large numbers of citizens are refusing to be brainwashed by the media, to be reduced to impotent spectators. These are the people who must be mobilized. Our task today is to state clearly our principles, to determine the most effective methods of resistance, and to coordinate our actions. Recent national experiences prove that this process can be generalized. We call upon those organizations with years of experience, as well as new structures and individuals, to view the creation of this global movement as imperative, and to build it by setting up broader-based, more effective local chapters and regional and national coordinating committees. We must reject both divisions and political manipulation: we must, instead, establish a platform of shared principles to shed light on our shared commitment; we must undertake actions that express the determination of our global resistance. Because we cannot stand idly by while the Palestinians are being humiliated, while their rights are being trampled, while they are victimized by atrocities, we are launching the Non-Violent Global Resistance Movement. We call upon public personalities (intellectuals, artists, etc.) to join the Movement; we appeal to activists and ordinary citizens around the world, to organizations committed to the defense of individual rights and dignity; we summon to our cause all those who refuse to tolerate the silent complicity of governments East and West, while in Palestine civilians are being slaughtered, or relegated to the new Bantustans that the Occupied Territories have become under Israel’s policy of colonization and apartheid.

Our only hope for success is a broad-based international mobilization.


Sign this Appeal, make it be known, be informed and keep people around you informed and aware. Join the already existing organisations, collectives and plateforms or help creating new ones wherever you are. Multiply information activities and civil and political resistance around the world.

First Signatories :

Karen Amstrong (UK), Moazzam Beg (UK), Tariq Ramadan (UK), Michael Hudson (USA), Tariq Modood (UK), Michael Warschawski (Jerusalem), Jean-Claude Meyer (France), Francois Houtart (Belgique), Ibrahim Kalin (Turquie/USA), Ziauddin Sardar (UK), Fareed Elshayyal (UK), Syed Faiyazuddin Ahmad (UK), Jeremy Henzell-Thomas (UK), Wilfried Mourad Hoffman (Germany), Roger Abdul Wahhab Boase (UK), Elfatih A.A/Salam, International Islamic University Malaysia (Malaysia), Ahmad Abuljobain (UK), Iftikhar H. Malik (UK), Sergio Yahni (Jerusalem), Lea Tsemel (Jerusalem), Nassar Ibrahim (Beit Sahour), Ahmad Jaradat (Hebron), Harfiyah Haleem (UK), Françoise Duthu (France), Umar Chapra (Pakistan/Saudi Arabia), Michel Collon (Belgique), Dr. Munawar A. Anees (Pakistan), Tahir Abbas (UK), Rafik Beekun (USA), Louay Safi (USA) , Sheila Musaji (USA), Bob Crane (USA), Jafar Siddiqui (USA), Muqtedar Khan ( USA), Charles Butterworth (US), Jocelyne Cesari (USA- France), Istishhad Mousa (Canada), Yahya Birt (UK), Muneeb Nasir (Canada), Dr.Mario Liguori Presidente I.T.I. Istituto Tributario Italiano Centro Studi di diritto e tecnica tributaria (Italia), Tarik Ramdani (France), Remi maliz (France), Nadia Bittame (France), Jeanne-Marie El Mejjad Marrakech (Maroc), Sadeekah Saban - CT (South Africa), Homera Ansari (India), Zineb Rabi Andaloussi (France), Shaheryar Akbar (Pakistan-USA), Gemma Slack (USA), Amjad Saleem (Sri Lanka), David Burrell (USA), Dr Serena Hussain, Loubna Youssef, PhD. Cairo University (Egypt), Claude Calame (France), André Tosel (France),


ORGANIZATIONS :

European Muslim Network, Présence Musulmane Montréal, Présence Musulmane Toronto, American Muslims of Puget Sound (USA), Collectif des Musulmans de France, Centre Culturel Tawhid (France), Trait d’Union (France), Al Houda (France), AJCREV (Alliance de la jeunesse contre le racisme l’exclusion et la violence)(France), Collectif Féministe pour l’Egalité (France), Mouvement des Indigènes de la République (France)

Source: http://www.tariqramadan.com

Tie A Yellow Ribbon: Kekuatan Memaafkan

Posted in Manajemen diri, Serba-serbi on Juni 10th, 2011 and

Dibawah ini adalah sebuah kisah nyata (true story) yang melatarbelakangi diciptakannya lagu “Tie A Yellow Ribbon Round The Oak old Tree”, yang dipopulerrkan salah satunya oleh Tony Orlando, yang merupakan salah satu lagu favorit saya. Kisah ini saya peroleh dari website Kaskus.

Ini link lagu & liriknya di Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=H4cyCuj3H…

_________________________________________________

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, “Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku.

Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan?

Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan…kita mesti lihat apa yang akan terjadi…”

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.

Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya…

Dia tidak melihat sehelai pita kuning…

Tidak ada sehelai pita kuning….

Tidak ada sehelai……

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning….bergantungan di pohon beringin itu…Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning…!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree”, dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.

Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2638727

“Report” Tabligh Akbar Ikhwan 12 Mei 2011 oleh @kaisar el_rema

Posted in Politik, agama on Juni 7th, 2011 and


Tentang Revolusi itu
1. ini pertemuan dengan #mursyid am ikhwanul muslimin di GOR Manshurah.
2. acara dibuka untuk umum. jam 3 sore. stadion penuh massa. di masa krisis begini, orang rela rombongan menebus bus u/ hadir #mursyid
3. #mursyid masuk panggung dgn lari-lari kecil. lelaki kelahiran 43 lulusan kedokteran dan bberapa kali dibui sebagai tapol ini masih brigas
4. ada sambutan dari mudir auqaf (semacam depag). di jaman mubarak ini mustahil terjadi. katanya ttg #mursyid: ada tempat khusus di hati
5. di hadapkan dengan fitnah-fitnah perpecahan di mesir, maka tepat saat acara dengan tema: “siapa kita dan apa yang kita inginkan”
6. ini beberapa kalimat dari taujihat #mursyid yang sempat saya tulis
7. dulu orang beranggapan mesir telah mati. saya katakan TIDAK. melainkan pemerintahan otoritarian membuatnya sakit. #mursyid #taujihat
8. dalam hitungan hari, lewat facebok dan allah tahu kejujuran demonstran, maka dengan allahu akbar tumbanglah rezim #mursyid #taujihat
9. revolusi mahal harganya. dibayar dengan nyawa. maka kewajiban kita sekarang menjaganya. jgn dipermurah dgn kerusuhan #mursyid #taujihat

Cerita Menarik di Tahrir tentang antusiasme non muslim di Tabligh akbar IM
10. ada cerita menarik di tahrir, waktu jum’atan dan jamaah bangun dari ruku ada yang bertakbir tapi dia tidak shalat . . #mursyid #taujihat
11. . ditanya: kenapa anda bertakbir tapi tidak shalat? kata orang ini: saya nashrani, kristen. #mursyid #taujihat
12. begitulah, sewaktu di alun-alun tahrir, kaum muslim menjaga kebaktian saudara2nya yang nashrani. #mursyid #taujihat
13. jadi kalau tiba-tiba sekarang ini kita sering disibukkan dengan perang agama di mesir, siapa aktornya? kita mesti menjaga revolusi ini
14. saya pesankan kepada media massa, agar bertakwa kepada allah. dengan semangat memberitakan perang agama tanpa investigasi #taujihat
15. sekarang kita tahu, tidak ada perang agama antara nashrani dan muslim di mesir, yang ada makar sang diktator #mursyid #taujihat
16. saya bertemu dengan abdullah gul turki katanya: mesir akan lebih maju dari turki, sebab memiliki asas-asas mabadi yang jelas #taujihat
17. maka setelah revolusi ini saudara-saudaraku, kita telah selesai dr perjuangan kecil dan akan menghadapi perjuangan lebih besar #taujihat

IM dan konsep negara madaninya (civil society) , *ternyata bukan negara Islam.. *
18. sejarah ikhwan sebenarnya telah disembunyikan oleh rezim mubarak. dalam waktu belasan tahun, 40.000 kader dibui sbg tapol. #taujihat
19. tidaklah islam mengingnkan kecuali negara madani, civil society. dan islam memberikan hak kebebasan kepada semua masyarakat #mursyid
20. kebebasan yang kami pahami adalah kemuliaan. maka tdk boleh dikotori dengan syahwat kebinatangan. al-hurriyah la al hayawaniyah #mursyid
21. civil society yang seperti berlaku pada nabi. meskipun mendapat wahyu dan ma’shum tetap menerima kritik #mursyid #taujihat
22. civil society sprti di jaman umar, saat berpidato di mimbar seorang rakyatnya mengkritik dan kahlifah menerima #mursyid #taujihat
23. hanya civil society dalam islam yang memberikan kebebasan hakiki. sebab islam membebaskan manusia dari diperbudak manusia #mursyid
24. sebagian pendiri partai ikhwan (alhurriyah wal adalah) beragama kristen koptik. sbab mereka tahu tidak ada kebebasan kecuali. . #mursyid
24. kecuali dalam naungan payung islam #mursyid #taujihat
25. nabi memerintahkan kita u/ menjaga tetangga. maka mari kita menjaga tetangga-tetangga kita yg beragama kristen #mursyid #taujihat
26. punyailah sifat sebagaimana yg dikatakan khadijah kepada muhammad:berbuat baik pada keluargamu, selalu berkata benar. . #mursyid
27 . .selalu menolong yang membutuhkan, selalu memberi makan tamu-tamumu dan engkau selalu datang jika ada orang yang kesusahan. #mursyid